Penilaian Abad 21 : Enam Pendekatan Menilai Kemampuan Berfikir Kritis

https://www.fathur.web.id/2020/01/penilaian-abad-21-6-pendekatan-menilai.html
Ketika kita memikirkan tes/ujian di sekolah, kita mungkin langsung membayangkan siswa meletakkan lembar jawaban di meja mereka lalu mengisi jawaban singkat untuk bentuk soal isian, memberikan pilihan untuk bentuk soal pilihan ganda, atau menulis esai singkat untuk soal berjenis uraian. Mayoritas upaya kognitif mereka difokuskan pada pencarian ingatan mereka untuk menemukan respons/jawaban yang sesuai dengan soal tes/ujian, atau menerapkan rumus untuk masalah yang sudah biasa. Gaya penilaian pendidikan ini merupakan jenis keterampilan yang dianggap penting sepanjang abad ke-20 yakni keterampilan menyimpan informasi yang relevan dan mengambilnya sesuai permintaan.
Namun, jika dilihat dari sudut pandang pengukuran maka masalahnya akan lebih kompleks. Pengukuran yang bermakna membutuhkan pendefinisian apa yang ingin diukur, serta sistem yang konsisten untuk menentukan ruang lingkup apa yang ingin diukur. Mungkin akan relatif mudah untuk pengukuran berat dalam gram atau tinggi dalam centimeter, tetapi tidak untuk pengukuran kognitif karena mengukur keterampilan ini tidak sesederhana kelihatannya.
Konsep-konsep semacam kreatifitas atau literasi bukan objek nyata yang dapat dengan mudah diukur berdasarkan berat atau tinggi mereka. Konstruksi tersebut tidak memiliki sifat pengukuran inheren yang independen dari definisi manusia sehingga menjadikan dilema bagi para pendidik. Pendidik perlu menilai hasil belajar siswa untuk mengetahui siswa mana yang siap untuk belajar pada tahap selanjutnya.
Ketika kita berpikir tentang pembelajaran atau keterampilan, kita mengasumsikan bahwa penguasaan kompetensilah yang mendasari dan bertanggung jawab atas perilaku tertentu dalam hasil belajar. Tetapi kita sulit bahkan tidak bisa melihat kompetensi ini melainkan hanya bisa melihat hasilnya saja. Sehingga jika kita ingin mengukur kompetensi tersebut maka kita harus memeriksa hasilnya untuk memperkirakan jumlah, tingkat, atau kualitasnya dan itulah tantangannya.
Satu centimeter akan selalu satu centimeter, tetapi apa yang dipandang sebagai jawaban yang benar untuk suatu pertanyaan dapat sangat bervariasi. Jadi apa yang kita cari dalam pengukuran konstruksi pendidikan tersebut adalah proksi, yakni sesuatu yang dapat mewakili/merepresentasikan apa yang benar-benar dapat dia wakili.
Sebagai contoh dalam ilmu kedokteran forensik, ketika tidak ada identitas pada mayat terlebih jika mayat rusak maka usia mayat tersebut dapat diperkirakan dari giginya, inilah yang disebut proksi. Oleh sebab itu, kualitas pengukuran sangat tergantung pada kualitas proxy yang dipilih.
Respon siswa pada tes/ujian adalah proksi untuk kompetensi dan pembelajaran mereka dimana terdapat banyak jenis proksi yang bisa jadi akan lebih baik atau lebih buruk dalam mengungkapkan kualitas atau ketercapaian kompetensi siswa. Penting sekali untuk mengetahui proksi macam apa yang paling berguna untuk setiap keterampilan atau kompetensi, dan bagaimana kita mengumpulkannya.
Selama beberapa dekade terakhir, tes/ujian menggunakan pensil dan kertas telah menjadi metode utama yang digunakan untuk menilai hasil pendidikan. Untuk melihat literasi dan berhitung mungkin metode ini cukup masuk akal, namun untuk keterampilan lain seperti penyelesaian masalah, pemikiran kritis, kolaborasi, dan kreativitas ini kurang cocok dan perlu mencari proksi baru.
Penilaian abad 21 adalah penilaian yang dirancang untuk dapat mengukur dan memetakan ketercapaian suatu kompetensi atau materi secara otentik dengan menggunakan model atau bentuk penilaian otentik. Penilaian ini juga harus dapat melihat sampai sejauh mana kecakapan abad 21 peserta didik yang dirumuskan dalam “ISTE Standard for students” telah membekas dan menjadi karakter bahkan membudaya pada peserta didik.
Disini akan dibahas tentang salah satu penilaian kecakapan abad 21 yakni Berfikir Kritis (critical thinking). Bagaimana kita tahu bahwa siswa kita berpikir kritis? Penilaian pemikiran kritis relatif rumit untuk dilakukan karena mencakup keterampilan yang luas. Namun, kita dapat mulai menilai pemikiran kritis dengan cara memecahnya menjadi komponen yang lebih mendasar dan kemudian menentukan kriteria yang dapat digunakan untuk melakukan penilaian.
Terimakasih atas saran dan tanggapannya, segera akan dibalas !